(suasana belakang rumah bibi nya bapak di Garut, adik nenek)
Terekam moment indah di tempat terindah. Masih jarang tersentuh oleh
polusi dan asap kendaraan. Hijau daun yang segar dipandang mata. Suara
mata air yang deras mengaliri persawahan, kolam ikan milik nenek bungsu. Cuaca
pun bersahabat dengan kami.
Hari Raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran pun tiba, saat yang paling ditunggu dan dinanti setiap umat Muslim. Dimana kami semua saudara saling berkunjung, saling bermaaf-maafan, mengikat kembali tali silahturahmi yang sempat merenggang dan mempererat agar lebih dekat, juga saling mencicipi makanan khas Lebaran.
Tahun ini saatnya menemani Bapak pulang kampung ke Garut dan Bandung. Segala keperluan pakaian sudah siap, kondisi mobil wajib diperiksa. Dan tak kurang, kami dalam keadaan yang sehat wal'afiat. Pemberangkatan kami pukul 4 pagi. Tak sempat berkunjung ke Bandung, karena ternyata seluruh keluarga besar sudah berkumpul di Garut. Bapa langsung tekan gas menuju garut.
Halang rintang yang sangat berat. Dimana kami terjebak macet di Nagrek selama 6 jam. Dan pada akhirnya kami sampai garut pukul 7 malam. Alhamdulillaaah kami disambut penuh maklum hehehe,, makanan sudah tersedia penuh, bakar ikan, dan segalanya tersedia. Saya hanya makan beberapa menu lalu tidur. Persiapan esok hari mengunjungi makam eunin.
Esok harinya kami mengunjungi makam eunin di salah satu daerah (lupa nama). Jalannya tidak bagus untuk mobil sedan tua yang kami naikki, tak beraspal, badan jalan hanya cukup untuk satu setengah dari bada nmobil kami, sehingga harus berwanti-wanti jikalau ada mobil datang dari arah lawan. Juga sebelah kanan kami adalah daerah Rawa super besar. Menegangkan. Hanya delman dan beberapa mobil rata-rata ber plat nomor B, F dan D. Sepertinya pengunjung.
Sesampainya, kami terjebak masalah lagi. Mobil yang ditumpangi tante "nyusruk" ke lubang tanah. Alhamdulillaaah sudah banyak saudara kami yang mewanti. Yang ternyata sebelumnya sudah 3 mobil yang terjebak. WHAT A DIFFICULT DAAAAAY !!!!!
Akhirnya semua bisa teratasi. Kami pun mengunjungi makan eunin setelah itu kami langsung berangkat ke salah satu tempat wisata di Garut, yaitu Situ Bagendit. Kami hanya dikenai biaya parkir 5ooo rupiah dan tiket masuk 2ooo rupiah. Dongengnya mengapa disebut Situ Bagendit.
Dengan cepat ia dapat mencabut lidi itu. Seketika keluarlah pancuran air yang sangat deras. Makin lama air itu makin deras. Karena takut kebanjiran,penduduk desa itu mengungsi. Nyai Endit yang kikir dan tamak tidak mau meninggalkan rumahnya. Ia sangat sayang pada hartanya. Akhirnya, ia tenggelam bersama dengan harta bendanya. Penduduk yang lain berhasil selamat. Konon,begitulah asal mula danau yang di kemudian hari dinamakan Situ Bagendit.
Hari Raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran pun tiba, saat yang paling ditunggu dan dinanti setiap umat Muslim. Dimana kami semua saudara saling berkunjung, saling bermaaf-maafan, mengikat kembali tali silahturahmi yang sempat merenggang dan mempererat agar lebih dekat, juga saling mencicipi makanan khas Lebaran.
Tahun ini saatnya menemani Bapak pulang kampung ke Garut dan Bandung. Segala keperluan pakaian sudah siap, kondisi mobil wajib diperiksa. Dan tak kurang, kami dalam keadaan yang sehat wal'afiat. Pemberangkatan kami pukul 4 pagi. Tak sempat berkunjung ke Bandung, karena ternyata seluruh keluarga besar sudah berkumpul di Garut. Bapa langsung tekan gas menuju garut.
Halang rintang yang sangat berat. Dimana kami terjebak macet di Nagrek selama 6 jam. Dan pada akhirnya kami sampai garut pukul 7 malam. Alhamdulillaaah kami disambut penuh maklum hehehe,, makanan sudah tersedia penuh, bakar ikan, dan segalanya tersedia. Saya hanya makan beberapa menu lalu tidur. Persiapan esok hari mengunjungi makam eunin.
Esok harinya kami mengunjungi makam eunin di salah satu daerah (lupa nama). Jalannya tidak bagus untuk mobil sedan tua yang kami naikki, tak beraspal, badan jalan hanya cukup untuk satu setengah dari bada nmobil kami, sehingga harus berwanti-wanti jikalau ada mobil datang dari arah lawan. Juga sebelah kanan kami adalah daerah Rawa super besar. Menegangkan. Hanya delman dan beberapa mobil rata-rata ber plat nomor B, F dan D. Sepertinya pengunjung.
Sesampainya, kami terjebak masalah lagi. Mobil yang ditumpangi tante "nyusruk" ke lubang tanah. Alhamdulillaaah sudah banyak saudara kami yang mewanti. Yang ternyata sebelumnya sudah 3 mobil yang terjebak. WHAT A DIFFICULT DAAAAAY !!!!!
Akhirnya semua bisa teratasi. Kami pun mengunjungi makan eunin setelah itu kami langsung berangkat ke salah satu tempat wisata di Garut, yaitu Situ Bagendit. Kami hanya dikenai biaya parkir 5ooo rupiah dan tiket masuk 2ooo rupiah. Dongengnya mengapa disebut Situ Bagendit.
Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang kaya raya,bernama Nyai Endit. Ia
tinggal di sebuah desa di daerah Garut, Jawa Barat. Nyai Endit
mempunyai harta yang berlimpah ruah. Akan tetapi, ia sangat kikir dan
tamak. Ia juga sangat sombong, terutama pada orang-orang miskin. Suatu
hari Nyai Endit mengadakan selamatan karena hartanya bertambah banyak.
Ketika selamatan itu berlangsung, datanglah seorang pengemis. Keadaan
pengemis itu sangat menyedihkan. Tubuhnya sangat kurus dan bajunya
compang-camping. “Tolong Nyai, berilah hamba sedikit makanan, ”pengemis
itu memohon. Melihat pengemis tua yang kotor dan compang-camping masuk
ke rumahnya, Nyai Endit itu marah dan mengusir pengemis itu. “Pengemis
kotor tidak tahu malu, pergi kau dari rumahku, ”bentak Nyai Endit.
Dengan sedih pengemis itu pergi. Keesokan harinya masyarakat disibukkan
dengan munculnya sebatang lidi yang tertancap di jalan desa. Semua orang
berusaha mencabut lidi itu. Namun,tidak ada yang berhasil. Pengemis tua
yang meminta makan pada Nyai Endit muncul kembali.
Dengan cepat ia dapat mencabut lidi itu. Seketika keluarlah pancuran air yang sangat deras. Makin lama air itu makin deras. Karena takut kebanjiran,penduduk desa itu mengungsi. Nyai Endit yang kikir dan tamak tidak mau meninggalkan rumahnya. Ia sangat sayang pada hartanya. Akhirnya, ia tenggelam bersama dengan harta bendanya. Penduduk yang lain berhasil selamat. Konon,begitulah asal mula danau yang di kemudian hari dinamakan Situ Bagendit.
(http://historyology.blogspot.com/2010/01/legenda-situ-bagendit.html)
Disana kami hanya menemukan Rawa besar dengan banyak pengunjung, beberapa turis. Kami menaiki sebuah parit dengan biaya 50000 rupiah dengan janga waktu 1 jam. Akhirnya kami pun menikmati hari keluarga kami. We have a lot Fun there.
No comments:
Post a Comment