Dear: Rizky Satria Nugraha.
Ketika ego berargumentasi dengan sang hati. Ketika otak menguatkan sang hati untuk berhenti menguras apa yang diinginkan dan apa yang tersimpan. Berkali-kali benda lancip itu menusuk, merobek, dan mengoyak bahagia yang sudah terancang dan tergenggam erat. Entah kesalahan apa yang pernah aku perbuat. Entah prakata apa yang membuat semua ini aku yang harus tanggung sendiri. Ini sudah berlebih. Sejauh mana kamu menguji kesetiaanku? Sejauh mana beban ini harus kupikul dengan tangan ku sendiri? Berandai aku adalah hatimu, semua yang kau rasa aku sudah tahu. Berandai aku adalah pemikirmu, aku dapat menebak nama yang mana yang ada di hati itu. Disini (sambil menunjuk dada), kamu harus tahu seberapa kencang sang hati meneriakkan sakitnya. Disini (sambil menunjuk telinga), kamu harus tahu seberapa kuat aku menutup kencang telingaku agar semua tidak aku dengar. Disini (sambil menunjuk kepala), kamu harus tahu bagaimana aku bisa jatuh karna pemikiran akan rasaku. Sudah cukup. Sudah. Aku sudah tak bisa lagi membendung tangisku. Jika inginmu aku menghilang, aku akan menghilang. Jika inginmu aku diam, aku akan diam. Sampai kamu mengatakan dimana letak kesalahanku.

1 comment:
caaaaaaa
Post a Comment