Membayang Hitam


Memikirkanmu saat ini bagai memetik bunga di antara kawat berduri
Hati meraba mata tak melihat
Adalah kenangan yang terlalu indah yang membayang hitam, bukan kita tapi kalian
Kaki melangkah hati sulit menerka
Adalah segala hal yang sudah aku lewati tak jua menggenggam kepahaman ~ Firza

Pilih Mana?

Otaknya masih tergantung oleh pemikiran yang bergentayangan
Matanya tak mengantuk tapi sulit terbuka
Hatinya terlalu ringkih
Senyumnya melemah
Malam membungkam prakatanya
Siang pun menggenggam ceritanya
Diam bersama topengnya, dan angin malam menyanyikan lukanya
Roda masa kembali diputar, mencari celah waktu termudah
Pilih mana DAHULU ataukah SEKARANG?
Aku pilih tuk diam.


Still trying to play Nocturne op.9-2



Prakata Hati


Mencintai Apa yang Bukan Aku Cintai

Disaat cinta tak dapat menggapai citanya, ada harap yang memeluk citanya. Waktu yang semakin membatas mengecilkan ruang untuk berekspresi. Lukisan, musik, dan sastra. Terkadang pemikiran mempertanyakan keadilan. Aku hanya menuntut hak untuk mengapresiasikan ekspresiku, kecintaanku, dan keinginanku. Apa selalu Takdir yang harus dipersalahkan?. Dengan mengumpat dari kesalahan, mengatas namakan takdir. Apa cita-cita tak tergapai itu takdir?. Apa kesempatan lenyap itu takdir juga?. Sejauh mana pandangan itu akan lenyap, hingga pada saat akhirnya aku mendapatkan kesempatan itu?. Apakah benar umurku terlalu sempit untuk kembali memulainya dari nol?, sedangkan emas berlianmu mendapatkan kebebasan untuk memilih mana yang paling dia cinta. Haruskah aku mengalah setiap waktunya? Yang pada saatnya aku sendiri yang selalu tertipu oleh waktu dan kemampuanku. Bahkan untuk mengatakan lelah pun sepertinya haram untukku. Sudahlah. Jikalau Dia mengatakan ini takdirku, mungkin Dia sudah menyalahi takdirku yang telah dituliskan oleh Allahku. Ataukah ini benar takdirku? Mencintai apa yang bukan aku cintai?


Hitammu



Selalu ada kejutan yang lebih tak terduga dibalik kepercayaan yang terpampang. Dan tertipu jelas ketika semua itu sedikit melesat dari penglihatan. Apa yang tergenggam dari penglihatan tak selamanya benar. Apa yang terlihat dari setiap prakata yang terucap tak selamanya nyata. Di sebrang mana aku harus melompat? Dilubang gelap yang mana aku harus mengumpat? Kebohongan yang mana yang kamu sembunyikan? Goresan yang mana yang belum aku ketahui? Haruskah aku menjadi Tuhan agar hitammu dapat terlihat dengan mata telanjang? Ataukah gembok penyatu ini aku lepas agar kamu benar-benar terbebas dari penglihatanku? 





Matikan Lilinku


Berandai lilin yang sedang menyala itu adalah aku
Berandai cahaya yang terang pada lilin itu adalah nyawaku
Buat cahayanya meredup
hapus aku dari sketsa cerita hitam
Buat aku menghilang
hingga dunia tak mengenal namaku
Buat mereka yang ku cintai lupa padaku
hingga mereka lupa dengan goresan palsu itu
Buat badai angin terdahsyat
hingga debu menghapus segala jejak



Tertulis Untuk

Teruntuk seseorang yang tidak pernah ku ketahui identitasnya

Teruntuk seseorang yang tidak pernah ku ketahui maksud dan tujuan melakukan penghinaan ini

Teruntuk seseorang yang aku fikirkan siapa dalam tanda tanya


Dan ketika cinta tak tergenggam, alangkah baiknya berkaca dan mencari yang terbaik. Bukan menjatuhkan dan memfitnah orang yang paling dicintai oleh orang yang kamu cintai. Aku tak mengganggu, aku sudah tak punya hati dengan hatimu itu. Permainanmu terlalu busuk. Ini sudah diluar batas kekejaman manusia. Tak pernah kah terbesit dalam benakmu, apa yang kamu rasakan bila ini terjadi pada diri kamu?. Hentikan ini semua. Semua ingin hidup tenang. Semua ingin bahagia, tanpa usikkan mu. Buat orang yang paling kamu cintai itu menghargai perasaanmu dengan sikap positifmu. Buat orang yang paling kamu cintai itu bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Jangan kaitkan namaku dengan kesakitanmu. Aku hanya bagian dari cerita masa lalu orang yang paling kamu cintai. Aku punya hati. Jangan sakiti orang yang aku cintai dengan goresan palsu yang telah kamu suarakan pada dunia. Buat dirimu lebih berharga dengan menghargai dan menghormati orang lain. Jangan sakiti kedua orangtuaku. Jangan sakiti orang-orang terdekatku. Jangan mengumpat. Jangan bermain piasu dari belakangku. Bunuh aku bila itu yang kamu inginkan. Jangan kaitkan orangtuaku dan orang yang paling aku cintai. Tunjukkan dirimu yang nyata. Tunjukkan bahwa dirimu bukan pengecut. Katakan pada mereka jikalau kamu bukan binatang. 





Kertas Penenun Rindu

Terduduk diam sesosok gadis di tepi sungai. Sambil memperhatikan alir arus membawa pergi warna-warni perahu kertas yang ia buat. Sambil menopang dagu, ia melengkungkan bibirnya dibawah terik sang bulan. Tak lama, ia mengambil gitar kesayangannya. Tak jelas petikan apa yang ia mainkan. Tak membentuk rangkaian nada. Terlukis oleh suasana malam yang lembab, gadis itu melantunkan prakata rindu. Terdengar lembut dan gundah. 

Rindu dan Malam

Keringat dingin mulai menyetubuhiku. Bisikan gelap mendebarkan jantungku. Namamu mulai menjelma menjadi sebuah ketakutan. Di sudut malam yang mana kita akan kembali bertemu? Dimana kamu memeluk jemariku dengan kepalan tanganmu. Tak tertebak oleh akalku. Sudah berapa lama waktu menyembunyikan ragamu? Wangi tubuhmu hanya dapat kuingat samar. Hanya kalimat "Aku Cinta Kamu" lah yang ku ingat sampai detik ini. Cincin yang kupakai ini selalu aku ajak bicara. Berandai kisah Alladyn terjadi padaku, saat ku sentuh kau akan muncul disini, menemani sendiriku.