Pemikiran Tak Jelas

Sebuah pengalaman terindah adalah ketika apa yang saya percaya saya sanggupi dan saya bisa, disukai oleh banyak orang. Musik salah satunya, entah apa penyebabnya. Saya dapat menghabiskan segala waktu yang saya miliki hanya untuk musik. Dan entah apa penyebabnya, saya lebih mudah mengabaikan tugas saya sebagai mahasiswa untuk lebih fokus terhadap Penulisan Ilmiah yang dua bulan akan datang harus selesai, menunggu acc dari sang kampus, lalu daftar sidang. Ahh rasanya kurang adil jika saya belum berhasil menggapai apa yang saya cita-cita kan selama ini. Saya masih ingin menjadi anak Band. Saya masih ingin berleha-leha bersama kawan sejati. Saya masih ingin bermain-main. Satu tahun lagi, waktu yang akan lebih menegangkan mungkin untuk saya pribadi. Menghadapi pilihan antara Skripsi dan Sidang 3 Matkul Pilihan. Dan setelah itu lulus, mudah-mudahan lulus Amin ya Allaaah Amiiin. Setelah lulus mencari pekerjaan. Adakah perusahaan yang ingin menerima saya? Cukup membingungkan, dimana skill saya lebih mencondong ke musik dibanding IT . Yang saya butuhkan saat ini adalah seorang lelaki mendatangi ke-dua orangtua saya, dan meminta izin untuk meminang anak pertamanya. AAAAAH. Sungguh tak sabar, ingin segera bebas dari tugas ini,



Sendiri


Hati tak pernah menuntut lebih. Sungguhlah jauh dari sempurna. Penuh dengan kekurangan. Tak memaksakan kau tuk tetap tinggal. Dan tak melarang kau tuk pergi. Cukup bersadar diri dengan yang lalu. Maaf hati terlalu takut dijadikan pemanis, juga keras pada pemikiran. Katakan jika lelah. Aku terima. Jangan salahkan pada kecintaan. Karena murninya rasa tak dapat merekayasa setiap amarah yang terbakar. Berandai tiada lalu pada kisah, aku tak mungkin menjadi sesorang wanita dengan pemikiran yang dangkal. Tak sampai hati menyamakan dengan yang terdahulu. Ini murni dari rasa takutku. Rasa takut yang selalu membayang. Disudut mana ketika rindu dan cinta membisik, curiga dan amarah bertemu?. Jangan kau jawab. Tak satupun dari kita dapat menjawabnya. Biarkan aku disudut sini, gelap dan hening. Biarkan selimut dingin memeluk raga yang terkaku dalam ketakutan. Dan aku akan kembali ke peraduan ku, memohon yang terbaik dari segalanya. Pun agar kita dapat menemukan rahasia-Nya. Aku hanya ingin sendiri. Berikan waktuku. Biarkan waktumu menungguku. Tak kupaksakan kau untuk menunggu. Semua tak apa. Sekali lagi pemikiranku yang terlalu dangkal. Yang telah menghancurkan semua kesenangan dalam kisah. Dan memenjarakan kita dalam rundung permasalahan.


Bahagia



Bahagia itu sederhana. Ucapkan saja cinta kepada orang yang paling kita cinta. Dan tunggu jawabannya. Nyanyikan lagu yang paling kita suka. Mainkan musiknya. Ikuti alunan lagu tersebut. Menari dan berdendanglah. Bahagia itu akan datang...  


Indera Malam




"Biarkan gelap mendekap. Biarkan sang bulan mengalahkan gelapnya~Firza Diantry"

Rasanya malam adalah sahabat yang paling lekat dan dekat. Setiap terang mengumpat, sang gelap bersorak meneriakkan kemenangannya. Malam adalah dimana serabut otak kembali terhimpit dan tertindih oleh bisik-bisik pemikiran yang menurut sang hati tak perlu lagi terlihat oleh akal. Indera perasa ini lebih peka dan cerdas ketika malam menyerang indera pemikiran, bukanlah lidah, tapi hati. Bagaimana tidak? Entah memiliki kemampuan lebih atau tidak, tetapi setiap malam sang hati lebih cekatan dalam menangkap bayang-bayang cerita yang sudah terlupa. Dan sang pendengar, seolah menutup telinganya oleh kalimat yang telah terucap oleh sang terang.